Selasa, 02 Juni 2009
Senin, 11 Mei 2009

Biar Terdengar
Hidup,
tak usah ditanya.
Sebab bumi tak mampu menyelimutinya.
Hidup,
hanya butuh jawaban.
Kemudian katakanlah, biar terdengar olehnya.
ade irawan
Jumat, 08 Mei 2009
Layang-layang dan Aku..
Disaat kecil aku suka bermain layan-layang, bahkan sampai saat ini kalo diajak maen layang aku masih suka. Aku ulur layangku naik tinggi banget, repotnya kalo mo pulang musti harus narik setarik demi setarik sampai kepegang tangan. Yang paling menyenangkan adalah ketika aku mencoba memutus layang-layang teman, saling ulur dan saling tarik sampai salah satu ada yg putus. Dikala putus layang-layang itu akan terbang jauh dan dikejar ma anak-anak kecil siapa yg dapat dia yg berhak atas layang putus itu, bahkan ada juga yang tersangkut dipohon.
Dari situlah ternyata ada filosofi dibalik bermain layang-layang tersebut, yaitu harapan/cinta. Kita dan beberapa orang pasti merasakan dimana kita mencintai seseorang dan memberi harapan kepada orang lain akan cinta kita pasti akan ada yg bersifat seperti layang-layang tersebut, yaitu tarik dan ulur. Disaat layang-layang layang itu kita tarik, pastinya akan mendekat ke kita. Tetapi disaat diulur tentunya akan jauh juga layang itu, begitupun dengan sebuah harapan.
Kita memberi harapan kepada seseorang tetapi kita ulur harapan itu menjadi jauh, dikala jauh kita tarik lagi agar dekat dengan kita. Semakin jauh kita mengulur sebuah harapan, akan menarik lawan untuk memutuskannya. Dan disaat kita tarik, lawan tidak akan melihat layang kita karena dekat dengan kita, harapan yg kita dapatkan.
Ketika layang itu putus, seperti halnya dengan harapan kita putus juga. Dan jangan salahkan orang lain jika layang/harapan itu tertangkap oleh orang lain, ataupun tersangkut ditempat lain.
Kitapun juga akan susah jika berusaha mengejarnya, karena dengan terbawanya angin layang/harapan itu akan terbang jauh dan pastinya sudah banyak yg akan merebutnya. Kita pastinya akan bersusah payah mengejarnya, seperti hal dulu ketika layang-layang yg kumainkan putus aku berusaha tuk mendapatkannya kembali dengan mengejarnya dan itu pun ternyata sia-sia belaka. Disaat itulah timbul rasa kecewa, karena kita tidak dpt mempertahankannya.
Kita bermain layang-layang akan tentu sangat senang jika naik tinggi, karena kondisi layang kita akan tenang dan kita tidak khawatir. Berbeda dengan layang itu kita naikkan tidak terlalu tinggi, pastinnya kita tidak akan tenang karena layang-layang kita akan selalu kesana kemari.
Demikian juga sebuah cinta, kita mencintai seseorang akan merasa tenang jika kita naikkan cinta kita setinggi-tingginya kepada seseorang itu. Apabila kita mencintai seseorang dengan biasa/tidak terlalu tinggi, akan banyak godaan dikanan dan kiri yang siap menjatuhkan layang/cinta kita.
Artinya adalah janganlah kita tarik ulur harapan kita/seseorang, karena pada akhirnya akan putus juga dan sulit untuk mendapatkannya kembali, dan cintailah dengan perasaan cinta yang tinggi agar kita bisa tenang untuk merasakan artinya cinta.
Gimana menurut teman2??
Selasa, 05 Mei 2009
BER-ISLAM ALA -LDII- ADALAH SEBUAH KEMUNDURAN
Suatu saat saya punya teman kerja baru. Sebut saja Andi. Saat shalat Jum’at tiba, dia tidak bergegas pergi ke Masjid terdekat untuk shalat Jum’at. Setelah shalat Jum’at selesai teman kerja saya “Andi” ternyata tidak shalat Jum’at. Setelah saya tanya alasannya, dia menjawab bahwa Masjid “golongan” nya jauh. Dan dia hanya bisa shalat di Masjid golongannya. Di lain hari pernah ada orang bercerita, sebut saja namanya Dono. Suatu ketika dia shalat di sebuah Masjid, setelah shalat Dono terheran-heran, karena bekas dia duduk dicuci oleh pengurus Masjid tersebut. Lain lagi dengan nasib yang dialami Rini. Rini punya tetangga. Suatu hari karena hujan datang, Rini mengambil jemuran tetangganya agar tidak kehujanan. Kemudian Rini menyerahkan ke tetangganya, tetapi apa yang terjadi?. Tetangganya mencuci kembali pakaian tersebut. Keheranan mereka berdua termasuk saya hilang setelah tahu bahwa orang-orang yang “ganjil” itu pengikut LDII.
Contoh diatas hanyalah contoh kecil tentang sepak terjang pengikut LDII, berikut ini adalah bentuk keganjilan yang lain :
- Menolak membalas salam dari kaum Muslim yang tidak segolongan, kalaupun membalas itu karena terpaksa, ditujukan untuk salam kepada Malaikat.
- Menyetor 10 % dari hasil penghasilan ke LDII. (Mirip pada Ahmadiyah), dan pengikut tidak berhak bertanya kemana larinya uang itu. Bahkan bisa membayar untuk mengganti taubat.
- Mengkafirkan umat Islam diluar golongannya (mirip paham Khawarij & Mu’tazilah. Tetapi Mu’tazilah hanya sebatas mem-fasik-kan).
- Adanya sistem “354” yang mengalahkan “Rukun Islam” dan “Rukun Iman”. Sistem “354” adalah : “3” berarti ber-baiat, ber-amir dan ber-taat atau diartikan lain (sebagai simbol ) : Allah, Rasul, Amir atau Qur’an, Hadits dan Jamaah. “5” berarti program lima bab berisi janji/sumpah bai’at kepada amir, yaitu : mengaji, mengamal, membela, sambung jamaah dan taat kepada amir. Sementara “4” berarti : tali pengikat imam yang terdiri dari syukur kepada amir, mengagungkan amir, bersungguh-sungguh dan berdoa.
- Dalam menjalankan sistem “354” memakai siasat bohong atau taqiyah. Dengan taqiyah yang mereka namakan Fathonah, Bithonah, Budiluhur, Luhuring budi, para pengikut LDII dilatih, dibina, dan didoktrin terus-menerus untuk berbohong dan menerapkan standar ganda. Sehingga soal Korupsi, kolusi, manipulasi, sogok-menyogok, mencuri, merampok, berbohong, menipu dll, bukan hanya halal tetapi juga wajib dan berpahala besar untuk kepentingan LDII, lagian yang di bohongi kan Kafir.
- Belajar lewat buku atau media lain tidak sah, yang sah adalah belajar langsung dari guru mereka. Meski si murid telah menguasai ilmu yang dipelajari, selama tidak ada izin dari guru mereka berarti ilmunya tidak sah.
- Mengklaim sanad (urutan hadits) milik mereka yang paling betul, bahkan mengklaim sanad mereka sampai ke Jibril
- Amir-lah yang memutuskan sah tidaknya hadits. Jadi bisa saja hadits yang shahih jadi tidak dan sebaliknya.
- Murid harus menerima mutlak ajaran pemimpin tanpa boleh bertanya.
Pangkal penyimpangan perilaku mereka bermula dari sistem “Mangul (bacanya man-gul)” dan “musnad muttashil” yaitu bahwa dalam belajar Islam harus mempunyai urutan guru yang sambung menyambung dari awal hingga akhir/ sistem estafet dalam belajar atau mengikuti sanad mereka. Mereka hanya boleh menerima ajaran Islam dari pemimpin mereka. Mereka memplesetkan hadits “Siapa yang menafsirkan Al-Quran tanpa pengetahuan hendaknya ia mempersiapkan tempat duduknya di neraka”. (HR Tirmidzi) menjadi “Barang siapa membaca Al-Quran tanpa berilmu atau mangul…” padahal hadits tersebut menggunakan kalimat “ Man qaala fil Qur’an” (siapa yang menafsirkan Al-Quran) bukan “Man qara’a Al-Quran” siapa yang membaca Al-Quran).
Latar belakang penyimpangan ini juga karena penyimpangan dalam menafsirkan Firman Allah dalam surah Al-Isra : 36, “dan janganlah kamu mengatakan/mengerjakan pada apa-apa yang tidak ada ilmu bagimu (ilmu mangul)” (polnya ilmu Mangul, hlm 61/96), padahal kata “ilmu Mangul” tidak disebut dalam ayat ini”.
Selain itu untuk menguatkan sistem “Mangul”, mereka menukil ayat-ayat Al-Quran misalnya : QS Al-Qiyamah : 16 “ Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai) nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu”. Juga QS Thaaha : 114 “Dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al-Quran sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu”. QS Al-Qiyamah : 16 dan Thaaha : 114, sebenarnya berkenaan dengan keadaan nabi ketika menerima ayat-ayat Allah. Dalam beberapa Kitab Tafsir, ayat-ayat diatas maksudnya adalah Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengalami usaha yang payah dalam menghafal wahyu, sehingga beliau menggerak-gerakkan lidahnya (dalam usaha menghafal ayat-ayat Allah). maka Allah turunkan ayat ini. Jadi ketika Jibril selesai menyampaikan/membacakan ayat-ayat Allah, Jibril selalu berusaha membimbing nabi untuk menghafalkannya, secara perlahan-lahan, dan menyuruh nabi jangan tergesa-gesa.
Dalil lain yang digunakan untuk mengkafirkan adalah hadits yang berbunyi “ Laa Islaama illaa bil jama’ah, walaa jama’ata illa bil imaarah, walaa imaarata illa bittha’ah (tak ada Islam tanpa jamaah, tak ada jamaah tanpa kepemimpinan, dan tak ada kepemimpinan tanpa ketaatan). Hadits riwayat ad-Darimy ini tidak sah, karena terdapat Shafwan bin Rustum, seorang yang mahjul (tidak dikenal) dan munkarul hadits, seperti disebutkan oleh Imam Adz-Dzahaby dalam Mizaanul I’tidal (hlm 316). Dalam sanad ini juga terdapat Abdurrahman bin Maisarah yang oleh ibnul Madini dikomentari mahjul. Jadi hadits ini lemah
Loyalitas pengikut LDII bersifat mutlak. Padahal loyalitas mutlak hanya ditujukan kepada Allah dan Rasul-NYA (QS At-taubah: 71). Rasulullah bersabda “ Tak ada ketaatan pada makhluk dalam rangka bermaksiat kepada sang Khalik” (HR Tirmidzi 4/209).
Riwayat singkat LDII : LDII didirikan oleh Nurhasan tahun 1940-an, Awalnya bernama “Islam Jamaah” kemudian ganti nama menjadi “Lembaga Karyawan Dakwah Islam (Lemkari), kemudian menjadi LDII.
KESIMPULAN
Dari artikel diatas dapat dipahami bahwa ber-Islam ala LDII merupakan suatu kemunduran. Karena mengkafirkan golongan lain, pembatasan dalam lingkup belajar (harus lewat atasan sendiri) dan sempit dalam bermuamalah dengan manusia lain “bagai katak dalam tempurung”. Nabi Muhammad dan para sahabat tidak pernah mengajarkan cara demikian sebagai hal yang wajib, hal itu dibuktikan dengan surat-menyurat yang beliau & para sahabat lakukan selama hidupnya dengan beberapa raja atau pemimpin yang lain.
Sabtu, 07 Maret 2009
Kamis, 05 Maret 2009
Selasa, 03 Maret 2009
Senin, 02 Maret 2009
Yang Tersisa di Meja Makanku
Pagi ituYang tersaji di meja makanku
potongan kepala ikan beserta tulang,
diselingi nasi yang hampir jadi kerak
Sambil dengarkan engkau berkata tentang
cinta yang hilang di pagi hari.
Oh ludahmu banjiri piring makan ku,
caci makimu bikin aku kenyang.
Pagi itu seekor kucing kirim aku
sepotong kepala ikan di meja makan
Pagi itu beras di dapur habis tercuri tikustikus
Pagi itu kau menunggu cintamu pulang
depan pagar rumah










.jpg)


